Kerusakan Lampu Lalu Lintas
Kerusakan Lampu Lalu Lintas Baru Diatasi Agustus
Penyebab Utama Pasokan Listrik dan Vandalisme
Jakarta, Kompas - Belasan lampu pengatur lalu lintas mati setiap hari sehingga menyebabkan kemacetan panjang di berbagai ruas jalan Jakarta. Dalam satu bulan, sedikitnya terdapat 50 lampu lalu lintas mati karena berbagai sebab. Perbaikan atas lampu-lampu lalu lintas yang rusak itu diperkirakan baru selesai September.
Kerusakan lampu lalu lintas di Jakarta pada Selasa (3/7) pagi masih terus terjadi dan menjadi sumber kemacetan lalu lintas. Kemacetan terjadi di beberapa wilayah setiap hari mulai pagi sekitar pukul 08.00.
Di Jakarta Selatan kemacetan terjadi di persimpangan Cipulir dan Simprug Patal Senayan, di Jakarta Timur di Pasar Rebo dekat pabrik susu, di Jakarta Barat di Jembatan Lima, di Jakarta Utara di Gedung Panjang, dan di Jakarta Pusat di persimpangan Jalan Biak-Balikpapan.
Kemacetan terparah terjadi di persimpangan Jembatan Lima, Jakarta Kota. Di kawasan jalur perdagangan utama ini, menurut Kepala Kepolisian Sektor Tambora Komisaris Yacob, lampu lalu lintas sudah rusak selama empat bulan lebih.
Di Jakarta Pusat lampu lalu lintas yang bermasalah juga masih terjadi dan mengganggu kenyamanan pengguna jalan. Kemarin gangguan lampu lalu lintas terjadi di Karet Bivak, Jalan Raden Saleh, Jalan Kenari, dan terowongan Duku Bawah.
Petugas Traffic Management Center (TMC) Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya Brigadir Dua Rully, yang dihubungi, membenarkan pengamatan Kompas. Lampu lalu lintas yang rusak di wilayah Jakarta Selatan, ujarnya, ada di persimpangan Petogogan, Cipulir, Jalan Joko Sutono, serta Simprug.
Di Jakarta Timur di Pasar Rebo, dekat gedung eks Kodim Jatinegara serta di Bulak Rantai hek. Di Jakarta Barat di Pesing, Jembatan Lima, Jembatan Besi, dan Kamal. Di Jakarta Utara di Bhakti Penjaringan dan Gedong Panjang, sedangkan di Jakarta Pusat terjadi di Jalan Raden Saleh dan Jalan Biak-Balikpapan.
Ajun Inspektur Satu Krisna, juga dari TMC Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, juga menjelaskan, "Gangguan terparah di sepanjang Jalan Raya Pesing, Jakarta Barat. Semua lampu lalu lintas mati akibat kebakaran beberapa waktu lalu."
Namun, ada perbedaan sedikit tentang data padamnya lampu lalu lintas. Data Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya menunjukkan, terdapat belasan lampu lalu lintas mati setiap hari. Sementara data Dinas Perhubungan hanya menyebutkan 2 sampai 10 lampu lalu lintas yang mati setiap hari.
Sedang ditenderkan
Wakil Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono mengatakan, rusaknya lampu lalu lintas disebabkan masalah internal dan eksternal. Kerusakan internal lebih banyak disebabkan oleh rusaknya pengontrol dan modul lampu lalu lintas.
Sementara masalah eksternal lebih banyak disebabkan oleh matinya pasokan listrik dan perusakan oleh pemulung atau pengatur lalu lintas liar (pak ogah).
Matinya pasokan listrik yang selalu terjadi di berbagai kawasan secara berpindah-pindah, diakui Pristono, menjadi penyebab utama matinya lampu lalu lintas.
Padamnya listrik lebih sulit diatasi dan dapat terjadi dalam waktu beberapa jam sampai satu hari. Pasokan listrik yang sering mati juga menyebabkan modul listrik pada lampu lalu lintas menjadi terbakar atau putus, seperti yang terjadi pada Jalan Biak-Kyai Caringin.
Contohnya, pencurian kabel tembaga pada komponen listrik yang menyebabkan kerusakan parah pada lampu lalu lintas terjadi di Jembatan Tiga.
Selain itu, juga terdapat beberapa modul dan sekring lampu yang dirusak orang tertentu agar terjadi kemacetan dan mereka dapat mengatur serta memungut uang, seperti di Jalan Ciputat Raya-Deplu.
Kerusakan-kerusakan semacam itu, kata Pristono, diperkirakan terdapat di 50 lokasi. Perbaikan atas kerusakan itu memerlukan proses tender sehingga tidak mudah langsung dikerjakan.
Proses perbaikan akan mulai Agustus dan paling cepat selesai pada September 2007. Biaya perbaikan itu mencapai Rp 1 miliar. (ECA/WIN/NEL/ONG)












1 comments:
Kok kalah ama Yogya?
http://bataviatraffic.blogspot.com/2006/06/lampu-lalulintas-solar.html
Post a Comment