KINI PAYPAL SUDAH TERHUBUNG DENGAN BANK DI INDONESIA Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

28 March 2008

Jalan yang hari ini ditutup

Grogol

Hari ini mulai jam 23.00 hingga Sabtu jam 05.00 lalu lintas di Jalan Latumenten, sekitar halte busway Stasiun Grogol, Jakarta Barat akan ditutup. Di kawasan tersebut akan dilakukan pemasangan erection gelagar jembatan penyeberangan unyuk busway koridor 9 (Pinangranti-Pluit).

Lalulintas dari arah Pluit menuju Cawang dialihkan dari Latumenten melalui Jl DR Muwardi masuk ke Jl DR Makaliwe, dan kembali ke Jl Latumenten. Lalu lintas dari Cawang menuju Pluit diarahkan melalui Jl Latumenten masuk contra flow ke Jl DR Makaliwe lalu melewati putaran dan kembali ke Jl Latumenten.

Pengguna jalan dihimbau untuk menghindari jalan tersebut pada saat pelaksanaan pekerjaan.

Read More...

18 March 2008

Peralihan lalulintas

pramukaTerkait pekerjaan jembatan penyeberangan orang pada koridor 10 (Cililitan-Tanjungpriok) di Jl Jenderal Ahmad Yani/halte Pulomas Selatan akan dilakukan pengalihan arus lalu lintas pada hari Rabu 19 Maret pada 23.00-05.00.

Lalu lintas dari arah Cempakaputih/Tanjungpriok menuju Rawamangun/Cawang:

  • Kendaraan besar (bus/t ruk) melalui Jl Perintis Kemerdekaan-Jl Kayu Putih/ Velodrome/Arion -Jl Pemuda, dan seterusnya.
  • Kendaraan ukuran kecil diarahkan belok kiri melalui Jl Pulomas Raya-Jl Bangunan Barat-Jl Bangunan-Jl H Ten-Jl A Yani, dan seterusnya.

Arus lalu lintas dari arah Rawamangun/Cawang menuju Cempakaputih:

  • Kendaraan besar di persimpangan Pemuda/Pramuka diarahkan melalui Jl Pramuka-Jl Salemba Raya-Senen_Jl Letjen Suprapto, dan seterusnya atau melalui Jl Pemuda-Arion/Velodrome/Jl Kayu Putih-Jl Perintis Kemerdekaan, dan seterusnya.
  • Kendaraan kecil diarahkan melalui Jl Rawasari Selatan-Jl Rawasari/Jl Percetakan Negara-Jl Cempaka Putih Tengah-Jl Letjen Suparapto, dan seterusnya.

sumber: beritajakarta.com

Read More...

11 March 2008

Jalan berlubang: 129 titik

gatsu2 2008.02Saat ini ada 129 titik jalan belubang di DKI Jakarta, dari data Traffic Management Center Polda Metro Jaya:

1 Januari-9 Maret 2008 : terjadi 39 kecelakaan akibat lubang menganga.
9 orang meninggal, 27 luka 27, 3 mobil rusak.

Belum termasuk kecelakaan yang tidak dilaporkan korban.

Apakah para korban berhak menuntut pada pengurus/pembuat jalan/DKI?

Foto: detkfoto offroad di Gatsu

Read More...

22 February 2008

Kerusakan jalan membawa maut

Kepala Seksi Kecelakaan Lalu Lintas Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya Komisaris Irvan Prawira mengatakan, selama sepekan, yaitu 14-21 Februari, terjadi 33 kecelakaan. Satu di antaranya meninggal dunia, 9 luka berat, dan 8 luka ringan.Total kerugian benda mencapai 21 unit, sementara kerugian materi ditaksir Rp10,3 juta.

”Ini hanya kecelakaan akibat jalan rusak dan terbatas pada yang tercatat di kepolisian. Jumlah sebenarnya bisa mencapai dua kali lipat. Mereka yang tak melapor umumnya karena hanya luka ringan meski sering kali kendaraan mereka rusak berat,” ungkap Irvan.

Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Metro Jakarta Timur Komisaris Indra Jafar mengatakan, kerusakan jalan juga telah menyebabkan kecelakaan lalu lintas yang cukup parah. Sebagian besar korbannya adalah pengendara sepeda motor. Tercatat, sejak Januari 2008 hingga pertengahan Februari, tiga pengendara motor tewas, dua luka berat, dan tiga luka ringan.

Sejak kemarin malam hingga tadi pagi, sedikitnya 15 sepeda motor terjungkal saat melintas di depan supermarket Hero di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Sebabnya, badan jalan dipenuhi lubang.  TMC mengimbau warga yang pernah mendapat permasalahan dengan jalan berlubang agar mengirimkan informasi melalui SMS ke 1717. Hal tersebut agar TMC dapat segera mengidentifikasi jalan-jalan yang berlubang di ibukota, dan kemudian meneruskannya kepada pihak yang lebih berwenang dalam melakukan perbaikan terhadap jalan tersebut.

Dinas Pekerjaan Umum DKI seharusnya segera memperbaiki jalan yang rusak, karena sangat membahayakan para pengguna jalan dan memperparah tingkat kemacetan. Walau kerusakan itu terjadi merata, kerusakan paling parah terjadi di jalan-jalan yang baru saja diaspal ulang untuk keperluan proyek busway.

Selain hujan, kerusakan jalan, mulai dari mulut gang hingga ruas jalan protokol, juga disebabkan saluran air yang tak berfungsi. Tidak saja sampah dan material seperti pasir, batu, dan lumpur yang menyumbat saluran, tetapi juga bangunan liar. Akibatnya, aliran air tidak lancar dan menimbulkan genangan. Di Jalan Yos Sudarso misalnya, genangan terjadi setiap hujan deras turun.

Read More...

06 February 2008

Mahasiswa dan dosen melanggar aturan

mobil-derek "Di sini kan jalan protokol, apalagi rambu larangan parkir juga telah terpasang. Seharusnya sebagai akademisi mereka mengetahui hal itu," kata Kepala Suku Dinas Perhubungan Jakarta Pusat, Jhoni Aruan.

Sedikitnya 14 mobil milik mahasiswa, dosen, dan tamu di depan Universitas Indonesia Jalan Salemba Raya diderek petugas, pemilik tidak ditemukan. 10 mobil derek membawa mereka ke penampungan mobil di Taman Merdeka Jakarta Timur. Pemilik 20 mobil lainnya diberikan surat bukti pelanggaran.

"Saya sering menerima keluhan masyarakat. Kendaraan yang parkir di sepanjang jalan ini menyebabkan kemacetan." ujar Jhoni. Selain di Jalan Salemba Raya, ia juga mengincar area di depan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat atau di sepanjang Jalan Gajah Mada.

Read More...

15 January 2008

100 titik kerusakan

Kerusakan Jalan Timbulkan Kecelakaan, DPRD Bakal Panggil Dinas PU

Pihak Komisi D (Bidang Pembangunan) DPRD DKI Jakarta kecewa terhadap kinerja Dinas Pekerjaan Umum (PU) DKI terkait dengan kerusakan sejumlah ruas jalan raya di Ibu Kota. Dewan telah menerima cukup banyak keluhan masyarakat yang menjadi korban kecelakaan lalu lintas akibat ruas jalan raya yang mereka lewati berlubang dan tidak kunjung diperbaiki.

   "Kita minta Dinas PU DKI untuk segera memperbaiki seluruh ruas jalan di Jakarta yang rusak. Sebab, sudah banyak mencelakakan masyarakat pengguna jalan. Padahal, sebagai membayar pajak, mereka wajib menikmati jalan yang mulus, tidak berlubang seperti sekarang ini. Warga telah dirugikan karena banyak jalan raya yang tergenang, rusak, dan tidak segera diperbaiki," ujar Wakil Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD DKI Jakarta Zainudin MH, Senin (14/1).

    Zainudin MH yang juga anggota Komisi D (Bidang Pembangunan) itu akan mengusulkan pimpinan komisinya untuk memanggil pimpinan Dinas PU, meminta pertanggungjawaban terhadap kerusakan jalan raya.

   "Saya sendiri juga melihat banyak jalan di Jaksel yang berlubang didiamkan saja, tidak segera ditambal oleh Dinas PU. Padahal, dananya tersedia. Saya juga melihat kualitas pekerjaan di Dinas PU tidak sesuai dengan nilai anggaran yang dikeluarkan. Saya akan mengusulkan kepada Komisi D untuk segera memanggil Dinas PU," kata Zainudin MH yang juga Ketua DPP II Partai Golkar Jaksel ini.

    Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, menjawab pertanyaan wartawan tentang proyek prioritas perbaikan jalan dalam rangka program 100 hari kinerja Gubernur DKI, ia mengatakan telah memerintahkan Kepala Dinas PU Wisnu Subagyo Yusuf membuat kajian yang konprehensif tentang kerusakan jalan di Ibu Kota. Pasalnya, kerusakan jalan itu jenisnya bermacam-macam, ada yang rusak total karena usia jalan sudah tua, dan harus direhab total; ada yang hanya berlubang, dan perlu segera ditambal. "Tidak membedakan apakah itu jalan nasional atau jalan provinsi, sebab masyarakat menganggap kalau ada jalan rusak di Jakarta ya menjadi tanggung jawab Pemprov DKI," katanya.

    Soal buruknya kualitas jalan yang dikerjakan para konstraktor, sehingga baru saja selesai ditambal, beberapa saat kemudian rusak lagi, Fauzi Bowo enggan berkomentar.

    Ada 100 Titik

    Di tempat terpisah, Wakil Kepala Dinas PU Budi Widiantoro mengatakan, Pemprov DKI terus melakukan pembenahan jalan yang rusak. Namun, karena tidak berimbangnya antara jumlah kendaraan bermotor yang melaju di jalan raya dan panjang jalan yang tersedia, maka beberapa jalan banyak yang rusak. "Dari inventarisasi yang kita lakukan saat ini sedikitnya ada 100 titik jalan rusak di Ibu Kota," ujar Budi Widiantoro. Guna mengatasi hal itu, pihaknya melakukan perbaikan secara darurat, seperti melakukan penambalan di beberapa jalan yang berlubang. "Ada anggaran Rp 7 miliar untuk perbaikan darurat," ujar Budi. Dari 6.500 km panjang jalan di DKI Jakarta, setiap tahunnya yang mengalami kerusakan mencapai satu persen. Kerusakan terparah terjadi di wilayah Jakarta Utara karena banyak dilalui truk tronton dan kontainer.

    Banyaknya lubang besar membuat kendaraan memperlambat kecepatannya. Akibatnya, lalu lintas di sejumlah jalan mengalami kemacetan meski bukan pada jam sibuk.

    Kerusakan jalan di antaranya terjadi di jalan-jalan:
Fachruddin
RE Martadinata
Gunung Sahari
Yos Sudarso
Sultan Agung
Minangkabau
Palmerah menuju Kebayoran Lama
Pemuda
Buncil Raya
Otista Raya.

Bahkan sejumlah jalan di Jakarta Utara berlubang dan meninggalkan titik-titik genangan. Jalan bergelombang terlihat di Jalan Yos Sudarso sebelum perempatan lampu merah Cempaka Putih. Di tempat tersebut, jalan yang terbuat dari aspal bergelombang sepanjang sepuluh meter sehingga kendaraan terlihat memperlambat lajunya di sana. Beruntung terdapat fly over sehingga kemacetan yang terjadi tidak begitu parah.

    Sedangkan depan Kodamar Sunter, genangan setinggi betis atau sekitar 25 cm masih terlihat. Jalan bergelombang juga terlihat di mulut Jalan Kalibaru yang menuju Jalan Raya Cilincing. Panjang jalan yang bergelombang ini mencapai 15 meteran dengan kedalaman sekitar 10 cm sehingga beberapa kendaraan sedan terpaksa menghindarinya dan membuat jalan tersendat.

    Sebelumnya, Kepala Dinas Pekerjaan Umum DKI Wisnu Subagyo Yusuf menuturkan, kerusakan jalan di Ibu Kota mencapai 424.000 meter persegi atau sekitar 1,06 persen dari total 40 juta meter persegi jalan di Jakarta. Untuk ruas jalan yang rusak ringan, sekarang terus dilakukan perbaikan. "Jalan yang rusak ringan dialokasikan dana sekitar Rp 6,8 miliar," ujar Wisnu.

    Sedangkan untuk jalan rusak berat dialokasikan dana sebesar Rp 56 miliar. Namun perbaikan jalan rusak berat ini baru dapat dilakukan setelah APBD DKI disahkan. (SUARAKARYA - Yon Parjiyono)

Read More...

07 November 2007

Macet cet

Jakarta di Ambang Kelumpuhan Total

KEMACETAN di Jakarta akhir-akhir ini memasuki stadium empat. Stagnasi dan kelumpuhan sudah terjadi dan sebentar lagi ibu kota negara ini lumpuh total. Gerak manusia terhenti, roda perekonomian tidak berputar, kriminalitas merajalela, dan pemborosan menjadi-jadi.

Pejabat DKI Jakarta dan pemerintah pusat pasti paham risiko kemacetan yang terus mendera warga Jakarta. Tapi hingga hari ini belum ada solusi komprehensif mengatasinya. Slogan Fauzi Bowo di masa kampanye 'Jakarta di Tangan Ahlinya' ternyata belum memperlihatkan apa-apa.

Kemacetan di Jakarta memang bukan fakta baru. Namun, kemacetan akhir-akhir ini sudah mencapai tahap mengancam. Warga yang sebelumnya sabar dalam antrean kemacetan kini berubah menjadi pemarah. Dan kemarahan potensial menyulut tindakan anarkistis fatal.

Setiap hari jumlah mobil di Jakarta bertambah sekitar 350 unit dan kendaraan roda dua bertambah sekitar 1.250 unit. Total mobil kini mencapai sekitar 4,5 juta unit dengan porsi terbesar mobil pribadi. Sebaliknya, panjang jalan hanya sekitar 5.000 kilometer. Itu sudah termasuk jalan tol, jalan provinsi, jalan kabupaten, dan jalan lokal.

Kemacetan juga menimbulkan kerugian secara ekonomi. Bappenas menghitung, dari dua sektor saja, kesehatan dan energi, kerugian mencapai Rp7 triliun. Menurut perhitungan Yayasan Pelangi, total kerugian akibat kemacetan bisa mencapai Rp43 triliun. Itu termasuk kerugian akibat keterlambatan masuk kerja, pemborosan BBM, dan pencemaran udara.

Data lain menyebutkan jumlah pengguna kendaraan umum menurun dari tahun ke tahun dan sebaliknya pengguna kendaraan pribadi meningkat. Pada 2010 diperkirakan pengguna kendaraan umum hanya sekitar 44,1% dan kendaraan pribadi 55,9%. Padahal, setiap hari mobil pribadi mengangkut 3 juta kursi kosong melewati jalan tol di wilayah DKI Jakarta. Jumlah itu sekitar 33% dari total kursi kosong dari kendaraan pribadi yang melewati jalan-jalan Ibu Kota.

Apa makna angka-angka itu? Angka-angka itu mestinya amat berarti bagi pemerintah Jakarta dalam membuat kebijakan di bidang lalu lintas. Pertama yang paling sederhana adalah mengatur pembagian jam masuk truk dan kontainer ke tengah kota. Misalnya truk dan kontainer hanya boleh melintasi tengah kota pada tengah malam sampai subuh. Atau mengalihkan kendaraan tersebut melewati ruas tol lingkar luar (JORR).

Kedua, membuat kebijakan di bidang kepemilikan kendaraan. Kepemilikan kendaraan setiap keluarga dibatasi dan mereka boleh memiliki kendaraan baru, tapi kendaraan lama harus dienyahkan. Selain itu, kendaraan dalam usia tertentu harus dibesituakan. Dengan demikian, pertumbuhan populasi kendaraan seimbang dengan pertumbuhan infrastruktur.

Ketiga, dalam jangka panjang mengatur kembali tata ruang. Pemerintahan yang berorientasi ekonomi menciptakan penzonaan peruntukan lahan yang homogen. Zona perumahan menjadi satu kelompok yang terpisah dari zona perkantoran dan zona pusat perbelanjaan. Akibatnya, sekitar 16 juta orang harus bergerak setiap hari di jalan-jalan di Jakarta yang kemudian menciptakan kemacetan.

Keempat, memperbaiki sistem transportasi massa. Sistem bus way, water way, monorel, dan nantinya subway harus menjadi satu kesatuan dan memerhatikan kesinambungan dalam mobilitas manusia.

Kemacetan di Jakarta sudah mencapai titik kulminasi. Pemerintah DKI harus segera mengambil solusi jangka pendek. Jangan menambah jumlah warga yang stres atau gila. Jangan pula mendorong warga menjadi beringas karena akibatnya pasti fatal. [MEDIA INDONESIA | EDITORIAL]

Read More...